Friday, May 26, 2017

Kita yang Harus Terhenti

Lagi, aku mendapat sesak tak terkira
ketika kamu memilih berhenti dari langkahku.
Memilih tak lagi hadir di ruang waktu dan hatiku.
Ini bermula dari salahku.
Penyebab semua hal yang pernah kita bangun dan impikan,
harus hancur dan jatuh seketika.

Aku membenci kesalahan yang pernah kubuat.
Aku menerima kamu membenci dan sekecewa itu.
Aku tak layak lagi kamu tempatkan, sebab yang kulihat
kamu seakan terus ingin aku jauh dan tak lagi mendekatimu.

Akhirnya, aku terlempar dari perasaanmu.
Menjadi debu yang hancur, menjadi ingatan yang tak lagi mau
kamu ingat sampai kapan pun.
Atau bahkan menjadi seseorang yang ingin secepat mungkin
kamu buang dari hidup dan pikiranmu.

Aku kehilangan bahagiaku tanpamu.
Kisah kita yang hancur dan kandas saat percayamu
tak lagi ada untukku.
Tapi lihatlah, belakangan ini aku sulit tuk beranjak dari namamu
yang tak pernah memudar di hamparan pikiranku.
Terus teringat hal-hal terindah yang pernah hadir diantara kita.

Kata maaf, penyesalan, dan harapku,
seakan tak lagi kamu hiraukan.
Akhirnya, aku yang menghancurkan semua ini padamu.
Aku benci pada kesalahanku yang membuat langit di matamu
terus menurunkan hujan.

Kini, kita terhenti.
Tak ada lagi hari dimana impian dan mimpi kita
menyatu dalam doa-doa.
Namun, satu hal yang perlu kamu tahu.
Saat masih bersamamu dan setelah ditinggalkanmu,
doaku pun tetap sama "semoga kamu selalu bahagia".

Meski kita sudah terhenti,
ingatlah bahwa perasaanku tak pernah hilang.
Aku tak benar-benar pergi dari hidupmu.
Aku tetap ada di tempat yang mungkin tak terlihat olehmu,
sebagai orang yang tetap memperhatikanmu, mendoakanmu,
bahkan mencintaimu.

Untukmu, yang masih ku semogakan di hari-hariku.



Tuesday, May 9, 2017

Harusnya kita tak benar-benar seperti ini

Harusnya kita tak benar-benar seperti ini.
Membiarkan masing-masing diri bungkam tanpa sapa.
Saling menyimpan tanya pada tiap-tiap rasa,
meski aku tahu cara kita berpandangan sudah jauh berbeda.

Harusnya kita tak benar-benar seperti ini.
Kita yang saling menjauhkan padahal jemari
saling ingin mendekatkan.
Kita yang dibesarkan gengsi sampai lupa bahwa
melupakan hal yang paling sulit kulakukan.

Harusnya kita tak benar-benar seperti ini.
Kehilanganmu aku terbunuh sepi yang terus datang,
sedang kamu mungkin sedang asyik menggenggam
juga memeluk seseorang.

Harusnya kita tak benar-benar seperti ini.
Dua orang yang penah sama-sama menjaga hatinya
untuk sebuah cinta, dua orang yang dulunya berharap
tak ada yang harus pergi hingga meninggalkan luka.